In Allah We Trust :)


Andiana Moedasir ~ Serakan Ingatan di Batas Cakrawala

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

View original post

Advertisements

Wordpress emoticon


Abis jalan-jalan ke blog orang, terus penasaran sama emoteyang ada. Biasanya cuma smile ( 🙂 ), sad ( 😦 ), wink ( 😉 ), atau grin ( 😀 ). Makanya gue nyobacopy tuhemote.Kali aja ternyata bisa. 😀

tes: ➡

:mrgreen:

😯

😈

😳

Hore bisa!*norak mode:on* 😆

Kenapa sih Gempa Lombok ga jadi Bencana Nasional?


Ola!

Inalillahiwainnailaihirojiun. Turut berduka cita atas bencana yang terjadi di Lombok selama hampir sebulan ini.

Sekian lama ga nulis, tapi kali ini gue merasa harus menyebarkan informasi ini. Jadinya tulisan ini ga nyangkut di draf aja. Hehe. Informasi ini adalah satu penjelasan yang sudah ditulis oleh salah satu Dosen pengajar gue di kampus ketika ambil Manajemen Bencana, yang juga sekaligus dosen pembimbing tesis gue, Bapak Sutopo Purwo Nugroho. Seseorang yang menginspirasi untuk gue secara pribadi sebagai mahasiswanya, yang gue yakin juga jauh lebih banyak orang lain yang terinspirasi oleh beliau atas semangatnya dalam memberikan informasi yang merupakan tugas beliau sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. Seseorang survivor kanker paru2 yang tetap menjalankan tugas, mempertahankan semangat hidup dengan terus berobat. Semoga Pak Topo selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT.

Kenapa gue merasa harus menyebarkan informasi ini? Karena banyak informasi yang ga benar yang tersebar, seringkali hoax, yang malah meresahkan dan bikin panik masyarakat. Banyak orang yang menghujat kenapa ga dijadikan bencana nasional tanpa memikirkan aspek jauh ke depan. Kalau tidak salah ketika pak Topo bilang di salah satu twit-nya beberapa waktu lalu, ‘kalau apa2 dijadikan bencana nasional, kapan bangsa ini tangguh?’ Banyak yang ‘menghujat’ beliau.

Kemarin gempa yang besar terjadi lagi. Banyak yang menuntut untuk dijadikan status bencana ini sebagai bencana nasional. Bahkan sampai ada petisinya. Padahal sebenarnya walau tidak diberikan status itu, pemerintah pusat sudah menyokong dan membantu semaksimal mungkin. Seluruh kementerian dan instansi terkait yang terlibat sudah turun tangan membantu dan mengerjakan tugas dan fungsinya.

Penjelasan dari pak Topo di bawah ini mungkin dapat lebih dipahami.

POTENSI NASIONAL MASIH MAMPU MENGATASI BENCANA LOMBOK, TANPA HARUS MENYATAKAN BENCANA NASIONAL

Polemik terkait banyak pihak yang menginginkan status bencana gempa Lombok dinyatakan sebagai bencana nasional ramai dibicarakan di sosial media. Gempa besar beberapa kali terjadi menambah jumlah korban jiwa, kerusakan bangunan dan kerugian ekonomi.

Dampak gempa Lombok dan sekitarnya sejak gempa pertama 6,4 SR pada 29/7/2018 yang kemudian disusul gempa 7 SR (5/8/2018), 6,5 SR (19/8/2019 siang) dan 6,9 SR (19/8/2018 malam) menyebabkan 506 orang meninggal dunia, 431.416 orang mengungsi, 74.361 unit rumah rusak dan kerusakan lainnya. Diperkirakan kerusakan dan kerugian mencapai Rp 7,7 trilyun.

Melihat dampak gempa Lombok tersebut lantas banyak pihak mengusulkan agar dinyatakan sebagai bencana nasional. Wewenang penetapan status bencana ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 yang menyatakan bahwa Penentuan status keadaan darurat bencana dilaksanakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan tingkatan bencana. Untuk tingkat nasional ditetapkan oleh Presiden, tingkat provinsi oleh Gubernur, dan tingkat kabupaten/kota oleh Bupati/Wali kota.

Penetapan status dan tingkat bencana nasional dan daerah didasarkan pada lima variabel utama yakni:
1. jumlah korban;
2. kerugian harta benda;
3. kerusakan prasarana dan sarana;
4. cakupan luas wilayah yang terkena bencana;
5. dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.

Namun indikator itu saja tidak cukup. Ada hal yang mendasar indikator yang sulit diukur yaitu kondisi keberadaan dan keberfungsian Pemerintah Daerah apakah collaps atau tidak. Kepala daerah beserta jajaran di bawahnya masih ada dan dapat menjalankan pemerintahan atau tidak.

Tsunami Aceh 2004 ditetapkan sebagai bencana nasional pada saat itu karena pemerintah daerah, baik provinsi dan kabupaten/kota termasuk unsur pusat di Aceh seperti Kodam dan Polda collaps atau tak berdaya. Luluh lantak dan tidak berdaya sehingga menyerahkan ke Perintah Pusat. Pemerintah kemudian menyatakan sebagai bencana nasional. Risikonya semua tugas Pemerintah Daerah diambil alih pusat termasuk pemerintahan umum. Bukan hanya bencana saja.

Dengan adanya status bencana nasional maka terbukanya pintu seluas-luasnya bantuan internasional oleh negara-negara lain dan masyarakat internasional membantu penanganan kemanusiaan. Ini adalah konsekuensi Konvensi Geneva. Seringkali timbul permasalahan baru terkait bantuan internasional ini karena menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

Jadi ada konsekuensi jika menetapkan status bencana nasional. Sejak tsunami Aceh 2004 hingga saat ini belum ada bencana yang terjadi di Indonesia dinyatakan bencana nasional. Sebab bangsa Indonesua banyak belajar dari pengalaman penanganan tsunami Aceh 2004.

Yang utama adalah penanganan terhadap dampak korban bencana. Potensi nasional masih mampu mengatasi penanganan darurat bahkan sampai rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana nanti. Tanpa ada status bencana nasional pun penanganan bencana saat ini skalanya sudah nasional. Pemerintah pusat terus mendampingi dan memperkuat Pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Perkuatan itu adalah bantuan anggaran, pengerahan personil, bantuan logistik dan peralatan, manajerial dan tertib administrasi.

Dana cadangan penanggulangan bencana sebesar Rp 4 trilyun yang ada di Kementerian Keuangan dengan pengguna oleh BNPB siap dikucurkan sesuai kebutuhan. Jika kurang Pemerintah siap akan menambahkan dengan dibahas bersama DPR RI. Kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa Lombok diperkirakan lebih dari Rp 7 trilyun juga akan dianggarkan oleh Pemerintah Pusat.

Bahkan Presiden akan mengeluarkan Instruksi Presiden tentang percepatan penangan dampak gempa Lombok. Pemerintah pusat total memberikan dukungan penuh bantuan kepada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan kota serta tentu saja yang paling penting kepada masyarakat.

Presiden terus memantau perkembangan penanganan gempa Lombok. Bahkan Presiden telah hadir ke Lombok dan memberikan arahan penanganan bencana.

Banyak pihak yang tidak paham mengenai manajemen bencana secara utuh, termasuk penetapan status dan tingkatan bencana. Banyak pihak beranggapan dengan status bencana nasional akan ada kemudahan akses terhadap sumber daya nasional. Tanpa ada status itu pun saat ini, sudah mengerahkan sumber daya nasional. Hampir semua. Kita kerahkan personil dari unsur pusat seperti TNI, Polri, Basarnas, kementerian lembaga terkait dan lainnya. Bantuan logistik dari BNPB, TNI, Polri dan lainnya. Rumah sakit lapangan dari Kementerian Kesehatan dan TNI. Santunan dan bantuan dari Kementerian Sosial. Sekolah darurat dari Kementerian PU Pera dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa. Dan lainya. Semua sudah mengerahkan sumber daya ke daerah. Jadi relevansi untuk status bencana nasional tidak relevan.

Dalam penanganan bencana, apalagi urusan bencana sudah menjadi urusan wajib bagi pemerintah daerah maka kepala daerah adalah penanggung jawab utama penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerahnya. Pemerintah pusat hadir memberikan pendampingan atau perkuatan secara penuh.

Dalam prakteknya di dalam penanganan bencana-bencana besar di Indonesia, hampir semuanya berasal dari bantuan pemerintah pusat. Namun kendali dan tanggung jawab tetap ada di pemerintah daerah tanpa harus menetapkan status bencana nasional. Penanganan bencana seperti gempa Sumatera Barat 2009, erupsi Gunung Merapi 2010, tsunami Mentawai 2010, banjir bandang Wasior 2010, banjir Jakarta 2013, banjir bandang Manado 2014, kebakaran hutan dan lahan 2015, erupsi Gunung Sinabung 2012 sampai sekarang, erupsi Gunung Kelud 2014, gempa Pidie Jaya 2016, dan lainnya sebagian besar penanganan skala nasional dan bantuan dari pusat. Tanpa menetapkan status bencana nasional.

Memang, ada kecenderungan setiap terjadi bencana dengan korban cukup banyak selalu ada wacana agar pemerintah pusat menetapkan sebagai bencana nasional. Ini disampaikan banyak pihak tanpa memahami aturan main dan konsekuensinya.

Jadi tidak perlu berpolemik dengan status bencana nasional. Yang penting adalah penanganan dapat dilakukan secara cepat kepada msyarakat yang terdampak. Pemda tetap berdiri dan dapat menjalankan tugas melayani masyarakat. Pemerintah pusat pasti membantu. Skala penanganan sudah skala nasional. Potensi nasional masih mampu untuk menangani bencana gempa Lombok hingga pascabencana nantinya.

Mari kita bersatu. Bencana adalah urusan kemanusiaan. Singkirkan perbedaan ideologi, politik, agama, dan lainnya untuk membantu korban bencana. Masyarakat Lombok memerlukan bantuan kita bersama. Energi kita satukan untuk membantu masyarakat Lombok.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Ini ada infografisnya lagi. Mungkin bisa pada lebih paham.

Intinya, walau statusnya ga jadi bencana nasional, penanganannya sudah secara nasional. Ada yang komen terkait edaran kemendagri, yang himbauan kasih anggaran daerahnya untuk Lombok. Ya itu kan himbauan. Lagipula lebih gampang mindahin mata anggaran di dalam negeri kan? Risiko buat ekonomi lebih kecil. Kalo bencana nasional, nanti banyak hibah luar negeri yang masuk. Terus risiko lebih besar lah buat negara…. Lagipupa, masa kita ga mau bantu saudara sendiri sih?

Tidak ada yang mau terkena bencana. Tidak ada gempa juga yang dapat diprediksi. Gempa hanya dapat dilihat potensinya. Sebagai masyarakat yang hidup di Negeri cincin api, dua lempeng patahan, serta disebut sebagai laboratorium bencana, kita harus harmonis dengan bencana. Kita harus waspada serta siap siaga dalam menghadapi bencana….

Ciao!

I’m sorry goodbye


Ola!

Setelah sekian lama banyak konsep yang menganggur, akhirnya gue mutusin buat nulis ini aja. Bingung ceritanya, gue ga bisa cerita detail sih. Intinya sih lagu ini mewakili gue dua minggu ini. Terutama hari ini. Gue ga bisa ngomong langsung, gue udah malas. Gue pun bukan tipikal yang bisa ngomong langsung, jadi ya bisa jadi dia baca ini. Biasanya sih dia stalker gue. Cari tau segala tentang gue. Pernah dia bilang baca blog gue.

Jadi gini, gue sempat dekat dengan orang dari akhir Desember. Februari-Maret dekat banget malahan, tapi gue ga klaim jadian juga ya. Ya jalan bareng sih, nonton dan makan. Tapi gue ga bisa pastiin jadian juga, HTS-an lah, emang gue yang masih ga yakin. Hati gue masih buat yang lain walau ga menutup kemungkinan akan bisa ke lain hati. Selama dekat itu ya bikin gue cukup tau karakternya lah. Gue juga tau kalo dia ternyata udah suka sama gue dari beberapa bulan awal gue masuk kantor sekarang. Suatu saat gue beneran ilfeel. Pertamanya berusaha langsung jaga jarak. Beberapa kali pas ada bahasan yang gue ga sreg, gue jawab seperlunya. Gue jawab terserah. Tapi sepertinya disalahartikan. Menurutnya gue masih baik-baik aja, ga masalah dengan pembahasannya. Sebenarnya gue udah ga sreg, mulai horor. Menjelang akhir Maret gue sakit, terus gue langsung dinas, gue balik dinas dia yang dinas. Komunikasi makin gue batasi. Tapi sepertinya masih ga ngaruh. Awal April akhirnya gue blok. Sempat gue unblok tapi ya gitu, masih usaha. Jujur, sangat ga nyaman. Di satu sisi gue berusaha profesional di kerjaan, berusaha bersikap biasa aja, tapi ternyata ga bisa. Semakin dia usaha, gue semakin seram.

Beberapa yang bikin gue ga nyaman dan seram itu: lumayan posesif, pembahasan yang ga banget. Kenapa gue bilang lumayan posesif? Ya gue hargain masukannya yang gue ga boleh minum kopi dari sembarang gelas, walau itu teman gue sendiri. Tapi terus gue dinas bareng kenalan baru, random amat dia bete sendiri. Sorry, i don’t like drama. Pembahasan yang ga banget. Ya , gue memang seterbuka itu dengan sahabat-sahabat gue dari TK dan SD, tapi ya ga seterbuka itu juga. Gue udah membatasi pembahasannya, gue jawab pendek-pendek, gue jawab terserah. Tapi ada beberapa yang dia semacam ga mau tau, tetap dibahas. Ya udah lah ga usah gue bikin detail lagi, bikin makin malas dan lumayan muak. Pembahasan itu yang bikin gue makin seram dan horor.

Kejadian hari ini bikin gue makin ilfeel dan seram. Gue berasa diteror. Ya, hari ini dikirimin bunga. Kedua kalinya dikirimin ke kantor. Kali ini tiba-tiba kurir masuk ke ruangan, tanpa telp dulu. Kondisi ruangan gue lagi lengkap, gue lagi bahas soal terorisme sama bos gue dan beberapa teman gue. Bahas yang soal kejadian Surabaya kemarin. Tiba-tiba terima itu. Heboh seruangan, bahkan sampai bagian sebelah. Please, sekali lagi ya, I DON’T LIKE DRAMA! Apa lagi dari orang yang sebenarnya gue ga nyaman. Gue udah menghindar lebih dari sebulan ini. Terakhir jumat dia mau ketemu, gue alasan ada kerjaan. Ya, memang abis itu ada kerjaan dari bos gue. Tapi intinya, gue ga mau ketemu, gue ga mau ngobrol berdua. Saat ketemu atau papasan ya gue seperlunya aja. Gue masih menghargai dia di depan yang lain.

Gue masih menghargai dia dengan ga cerita detail. Semua chat udah gue hapus, walau ada beberapa screenshot chat ke dua sahabat gue. Cukup mereka berdua yang tau detail. Hanya satu yang gue bahas detail. Kenapa gitu? Itu membuat gue agar tetap waras dan emosi gue ga meledak. Dua sahabat gue udah bilang, “yaudah labrak langsung aja”. Gue masih menghargai, makanya kadang masih negor walau seperlunya. Sampai salah satu sahabat gue bilang, “lo baik bener sih, masih mau aja negor”. Setelah drama hari ini, ga deh.

Saat masih dekat itu, gue sempat cerita ke nyokap yang gue dekat dengan seseorang yang setahun lebih tua dari adek gue. Nyokap semacam udah kasih warning. Nyokap bilang, “ga ada yang lain, mba? Memang jodoh ga ada yang tau, tapi berat banget kalo itu”. Ya, gue nekat masih dekat. Ga nurut sama nyokap. Salah satu teman gue udah kasih warning juga. Tapi gue masih kekeuh buat nyoba. Akhirnya ya gue yang kena batunya sendiri. Horor, berasa diteror. Kalau kata salah senior gue yang dekat sama gue, “ya, itu termasuk terrorism. Teroris hati”. Si mas alumni senior emang deh salah satu penenang. Walau gue anak pertama, gue bersyukur punya beberapa kakak yang bisa jadi tempat cerita. Karena gue bukan tipikal yang gampang cerita ke nyokap. Berusaha diselesaikan dengan sahabat terdekat gue dulu. Maaf, ma. Anaknya ga percaya intuisi mama pas disuruh nyari yang lain.

Lagu ini cukup mewakili yang mau gue ucapkan. Walau ada beberapa yang ga sesuai. Buat lirik kalo gue cinta dan dia terbaik, ga sama sekali. Terima kasih gue jadi makin tau karakter. Terima kasih gue jadi semakin paham untuk istilah Yang Terlihat tidak seperti Kelihatannya. Seseorang yang terlihat baik, ibadah kuat, bisa saja karakternya tidak seperti itu. Mungkin dia bisa dengan orang lain, tapi tidak dengan gue.

sebelum bertemu denganmu

diriku bahagia

semenjak bertemu denganmu

ku makin bahagia
semakin lama aku

semakin tau tentang engkau

sedikit kecewa

ternyata engkau tak baik
pertama tama semua manis

yang engkau berikan

membuat aku merasakan

cinta sebenarnya
semakin hari

semakin terungkap

yang sesungguhnya

kumakin kecewa

ternyata kau penuh dusta
maafkan ku harus pergiku tak suka dengan ini

aku tak bodoh

seperti kekasihmu yang lain
terimakasih oh Tuhan

tunjukkan siapa dia

maaf kita putus

so thank you so much

i’m sorry good bye
seribu cara kau membuatku dengan puitis

tapi kau lupa bahwaku juga manusia

yang punya mata

perihnya hati dan perasaan

maaf aku pergi

dan takkan untukmu lagi

(i’m sorry good bye)
ku tak suka dengan ini

aku tak bodoh

maafkan ku harus pergi

tak seperti kekasihmu yang lain
terimakasih oh Tuhan

tunjukkan siapa dia

maaf kita putus

so thank you so much

i’m sorry good bye

 

 

Terakhir, gue nulis ini buat diri gue sendiri, pengingat dan sebagai self-healing. Supaya teror ini ga bikin gue trauma. Jujur, ga nyaman sama sekali. Semoga aja tidak berlanjut. Saya mau memasuki Ramadhan dengan tenang. Mau fokus ibadah. Kalau memang dia hanya mau minta maaf, gue maafin, tapi cukup. Ga komunikasi lebih lanjut.

Ciao!

My 2017!


Ola!

Whuwooo… ini penuh sarang laba-laba lah blognya. Udah sekian bulan ga posting. Beberapa mandek di konsep alias draf aja. Hihihi…

Buon Anno Nuovo! Selamat Tahun Baru 2018!

Semoga tahun ini jauh semakin baik untuk rezeki, kesehatan, keinginan, dan semuanya.

Ini postingan telat 3 bulan sih. Ini udah masuk bulan ke-empat di tahun 2018. Biasanya gue posting sejenis kaledeiskop alias renungan apa aja yang udah gue jalanin di akhir Desember. Tapi ya mending masih ada lah ya… Gue pun lupa apa aja yang gue lakuin, terlalu banyak. Hehe.

Bagaimana tahun 2017 kemarin buat gue? Ya gitu lah. Bersyukur aja, walau kesehatan gue sering banget drop. Tepar.

Januari – Juni

Kegiatan kantor ga terlalu banyak sih, selain kerjaan rutin, ada kegiatan yang melibatkan gue jadi panitia. Kembali ngurus sekian banyak orang. Walau acaranya ya rata-rata 1 hari. Di enam bulan pertama tahun 2017 ini gue akhirnya makin banyak kenalan, terus ya udah bisa lah ya ngebaur sama semuanya. Tapi di bulan puasa tahun ini gue ga ada reunian sama teman-teman SD. Hiks.

6 bulan awal tahun 2017 ini gue ga terlalu sering ke luar kota, dinas ya rata-rata ke Jogja. Walau akhirnya ya gue ke Palembang juga, dari lahir biasanya cuma ke Lampung, nyokap masih sekadar wacana doang ke Palembang sama-sama. Eh di bulan Maret akhirnya gue ke Bromo deng. Hihi… Bareng-bareng ke sana bikin cukup paham dan makin dekat dengan teman kantor.

Di enam bulan pertama ini gue juga ketemu dengan seorang teman lama yang membuat hati ini nyangkut. Seseorang yang gue pun ga menyangka akan nyangkut ke dia. Totalnya ya berarti udah hampir setahun ini ya. Padahal waktu pertama kali lagi ketemu dia itu gue masih ngegebet orang deket. Hihi. Pas ketemu dia, seakan semua tergantikan. Secara ga sengaja jadi membandingkan. Pembicaraan dengannya setelah sekian lama ga ketemu pun bikin gue nyangkut sama dia. Dua kali kondangan bareng. Kalo ketemu suka random. Pertemuan dan kontak yang bisa dibilang ga terlalu intens, tapi ya gitu. Belum dapat ke lain hati.

Naik turunnya hati sama satu orang ini ya bikin berusaha fokus aja lah sama kerjaan. Kerjaan di kantor semakin banyak. Terutama di enam bulan akhir tahun 2017. Enam bulan di awal 2017 ini juga bikin fokus sama si Tesis yang sudah tertunda sekian lama.

 

Juli-Desember

Kerjaan sebenarnya ya gitu sih. Cukup intens ke luar kota. Alhamdulillah ya balik ke Makassar 2x, balik lagi ke Palembang, Bali, Surabaya, Bandung, dan terakhir ke Bengkulu. Om yang di Bengkulu mendadak akhir tahun nikah. Alhamdulillah ya, om Kiiii…. Semoga aja ponakannya ini segera menyusul. Hihi.

Dua peristiwa penting dalam hidup gue. Akhirnya Gue sidang dan Wisuda juga. Si Tesis akhirnya kelar. Alhamdulillah. Berusaha fokus antara Tesis dan Kerjaan. Nekat langsung sidang walau tau banyak revisi. Sehari sebelum sidang sampai panasnya 39 derajat. Pas sidang juga masih belum sehat bener. Ngerjain revisi pun di tengah hectic-nya kerjaan. Deadline 2 minggu jadi sebulan. Gara-gara bolak balik luar kota. Awal Oktober nekat izin 3 hari ga masuk buat beresin Tesis daripada ga wisuda. Sehari izin setengah hari, pagi ngantor bentar terus ke kampus buat nyusulin berkas wisuda yang tertinggal abis itu balik kantor lagi buat absen. Selesai ngurus berkas wisuda, balik sibuk buat ke luar kota. Pertengahan Oktober tes seleksi CPNS, sehari sebelumnya masih di Makassar ada kegiatan kantor. Senin-selasa bantuin tes SKD Jakarta, ngantor buat beresin si kerjaan SK, sabtu lanjut ke Bali buat bantuin SKD. Akhir Oktober dan awal November izin ga masuk buat wisuda. Pertengahan November bantu tes SKB di Surabaya.

Akhir September akhirnya gue ketemu dia lagi setelah sekitar 3bulanan ga ketemu, dia mudik dan nunggu pengumuman kerja disana. Rencana mau ke Bandung, jalan-jalan dan nginep. Apa daya pas dia kesini, mendadak gue sakit. Alhasil ya jumat sore gue maksain buat ketemu dia, sabtu yang tadinya mau kondangan jg ga jadi, daripada ga nyampe ya karena dia juga bagi-bagi waktu buat ketemuan sama teman2 dan saudara2 dia, tapi minggunya ketemuan lagi gara2 bukunya dia ketinggalan di mobil gue, sekalian gue antar ke bandara. Ya, gara2 itu bandara jadi ada kenangan tersendiri buat gue.

 


Ya, itu lah rangkuman setahun gue di 2017. Oh iya, ada lagi deng. Di Tahun 2017 ini gue juga akhirnya balik dengerin I-Radio Jakarta. Jadi kenal sama penyiar-penyiarnya, yang akhirnya berasa berteman dengan mereka. Thanks guys, sudah menganggap para pendengarnya sebagai teman juga. Eh kalo Ibnu mah ujung2nya sempit yak pertemanan kita. Ternyata dia teman SMA-nya om Opik, teman kuliah S2 gue. Hihi…

 

Buat cerita si Dia, mungkin akan gue bahas di satu postingan tersendiri. Ini udah ga terlalu mood buat nulis detail kejadian tahun 2017. Udah lumayan lama yaaa… Nanti paling kalo ada revisi postingan cuma nambah foto-fotonya. :mrgreen:

 

Ciao!

 

*abis postingan ini bakalan gue rapel beberapa postingan lagi. Mumpung lagi mood buat nulis. 😛

[Lirik] Tanya Jadi Rasa – Vadi Akbar


Ola!

Sebenarnya udah lama sih mau posting si lirik lagu satu ini. Vadi ini adiknya si Vidi Aldiano, sekilas sih suaranya mirip. Itu menurut gue aja ya. Ahahaha…. Kenapa gue baru posting sekarang?  Soalnya pas kemarin malam itu di #Indokustik @Iradiojakarta, lagu ini dinyanyiin sebagai lagu penutup dia, pas dia emang bintang tamu bulan ini, pas pula lagu itu dibawain mau selesai, pas orangnya masuk mobil. Entah dia ngeh atau ga. :mrgreen:

Jadi ceritanya kemarin gue jadi ketemuan sama Dia. Ya, memang sebentar gitu ga cukup sih. Tadinya hari ini mau sekalian dia nemenin gue kondangan ke salah satu teman bedah kampus. Tapi dia juga ada janji sama temannya, ga tega lah gue masa dia cuma ketemuan dua jam doang sama temannya. Belum lagi gue kebayang macetnya di hari sabtu malam, apalagi siang kan hujan. Pasti sore ke malam macet bener lah. Yaudah besok aja ya… walau rasa kangen selama lebih kurang tiga bulan ini yang tidak terungkap, sebenarnya belum cukup hanya bertemu dalam sekian jam…. Saudades…

Btw ini mungkin lirik pas bener, jleb buat gue. Yang memang beberapa bulan ini telah dibuat tanya menjadi rasa…

Sudah lama kupercaya

Cinta hanya sebuah kata

Tak nyata makna di dalamnya

Dusta cipta Adam dan Hawa
Dan kau datang Mengubah hampir segalanya

Karna hadirmu membawa tanya
Ku bermimpi dengan mata yang terbuka

Ku melayang diatas awan tanpa terbang

Ku tlah jatuh cinta tanpa kau harus berusaha

Kau ubah tanya menjadi rasa
Ku cari arti dari semua ini

Rasa tinggi karna kau disini

Kau beri kesempatan hati

Tuk kembali mencintai
Dan kau datang Mengubah hampir segalanya

Karna hadirmu membawa tanya
Ku bermimpi dengan mata yang terbuka

Ku melayang diatas awan tanpa terbang

Ku tlah jatuh cinta tanpa kau harus berusaha

Kau ubah tanya menjadi rasa
Kau ubah tanya menjadi rasa
Ku bermimpi dengan mata yang terbuka

Ku melayang diatas awan tanpa terbang
Ku bermimpi dengan mata yang terbuka

Ku melayang diatas awan tanpa terbang

Ku tlah jatuh cinta tanpa kau harus berusaha

Kau mengubah segalanya

Kau ubah tanya menjadi rasa

Querido você,

Ya, kamu… yang kemarin sempat membuat galau, salah satu trigger badmood di kantor karena sempat ga ada kabar karena memang lagi sibuk. Mungkin aku bukan yang bisa langsung mengungkapkan, walaupun sekian banyak orang udah nyuruh langsung aja biar jelas. Cuma ya gimana, walaupun dari kecil sering main sama cowok, tetap aja susah.., aku ga tau kamu gimana, yang selalu membuat tanya jadi rasa. entah rasanya seperti apa. Menghadapi introvert itu selalu membuat bertanya-tanya. Kalau langsung pun tetap ada rasa takut, tapi kalau ga ya kelamaan… walau kemarin sempat terpikir untuk yaudah cari yang lain, tapi tetap aja hati ga bisa dibohongi kalau belum bisa.

Ya, semoga saja besok saat tanya jadi rasa ini dibicarakan, dapat terjawab…. *berasa besok bisa aja 😆 :blush:

Tchau!

 

 

 

Cinta 99% – Dea


Ola!

Moodbooster dari semalam itu lagu ini. Semua gara-gara Ibnu Akmal masukin lagu ini di #10lagukeren #malammalam I-Radio Jakarta. 😆 Ya, kemarin memang termasuk #kamismeringis buat gue. Menunggu kabar yang tak kunjung datang. Menunggu kepastian yang akhirnya gue pastikan sendiri dan gue gagalkan sendiri karena kondisi badan yang drop. Yang sampai sekarang walaupun akhirnya seminggu ini satu kota setelah 3 bulan tapi belum pasti bisa ketemu atau ga, yang hari minggu besok akan pisah kota lagi entah sampai kapan….

Benar seperti lirik ini, ya kalau memberikan jangan 100%, 99% aja. Segitu aja masih suka kegulung sendiri kan? :mrgreen:

Perhatiin aja liriknya…. 😛

sepertinya ku telah jatuh hati kepadamu
sembilan puluh sembilan persen jatuh cinta
ku menunggu tanda-tanda cinta itu darimu
agar ku yakin seratus persen padamu

maaf kau terlalu lama menunggu
bukan ku sengaja ingin menggantung
tapi ada sesuatu di dada
yang tak bisa terucap dengan mudah
cinta kurang satu persen

sepertinya kau telah mencuri hati ini ooh
99% persen kau miliki
tapi ku cari-cari tanda itu darimu
agar ku yakin 100% padamu

maaf kau terlalu lama menunggu
bukan ku sengaja ingin menggantung
tapi ada sesuatu di dada
yang tak bisa terucap dengan mudah, cinta (cinta)

jika memang kau ingin denganku
kau harus sabar menungguku, mengerti mauku

maaf kau terlalu lama menunggu, bukan ku sengaja ingin menggantung
tapi ada sesuatu di dada yang tak mudah ku ungkapkan kepadamu
cinta kurang 1%, kurang 1%, kurang 1%

Querido você…

Ya, semoga antara sabtu atau minggu pagi kita masih sempat ketemu lah ya… 🙂

 

Tchau!

Yakin mau jadi PNS?


Ola!

Setahun kerja di kantor pemerintahan, beberapa kali kerja sebagai pekerja lepas di beberapa kantor pemerintahan, bikin gue cukup tau bagaimana dunia pegawai negeri sipil atau istilah sekarang itu aparatur sipil negara (ASN). Mungkin banyak yang beralasan mau jadi ASN karena gaji yang tetap, pensiun pun tetap, jelas juga jenjang karirnya. Ga bohong sih, kalau di dalamnya memang menjanjikan. Mungkin gajinya ga sebesar di perusahaan-perusahaan swasta, yang kontrak kerjanya biasanya tahunan. Tapi jangan salah, ASN sekarang pun kinerjanya diperhitungkan. Ada suatu kesalahan yang memang benar-benar fatal bisa saja diberhentikan. Kalau ga betah, ga bisa seenaknya main mau keluar gitu aja. Ada jangka waktu tertentu, kalau sebelum jangka waktu itu diminta ganti rugi untuk negara. Jumlah ganti ruginya pun ga sedikit. Belum lagi kalau ternyata ada atasan yang ga menyetujuinya. Ada atasan yang sampai manggil langsung suaminya untuk konfirmasi alasan mengundurkan diri, kalau yang mengundurkan diri itu istrinya. Pernah ada kejadian beberapa bulan lalu soalnya. Gara-gara itu juga jadi ada wacana secara lisan, kalau ada yang mengundurkan diri lagi tetap disuruh bayar ganti rugi.

Kok gitu sih? Ya menurut gue wajar sih. Negara udah mengeluarkan dana yang sangat banyak untuk pengadaannya, belum lagi pembinaannya selama setahun. Kalau kalian para peserta yang ikut seleksi cpns tau, bakalan tersadar deh, ga asal ikutan. Banyak hal lah yang mesti dipertimbangkan. Hidup itu pilihan kan?

Selain itu, jangan lupa kalau dengan kalian jadi ASN itu, kalian sudah mengabdikan diri untuk negara. Keluarga jadi nomor dua deh kalau udah ada tugas negara. Ih, kok gitu? Ya itu ada di sumpahnya sih kalo ga salah. Jadi ASN memang salah satu cara pengabdian diri untuk negara, walaupun cara pengabdian untuk negara ga mesti dengan jadi ASN. Nih tulisan lain yang gue temuin di halaman muka facebook. Tulisan ini ditulis sama salah satu abdi negara, gue ga kenal juga sih yang nulis, cuma beberapa senior gue yang ASN yang berbagi ini di facebook. Mungkin bisa jadi renungan kalian dan pertimbangan kalian yang ikut seleksi CPNS. 🙂

Yakin mau jadi PNS?

Salah satu info trending sejak kemarin yang membuat banyak orang bersemangat adalah informasi tentang dibukanya kembali Rekruitmen PNS setelah bertahun-tahun moratorium.

Para pendaftar akan bertarung habis-habisan memperebutkan kursi yang terbatas demi menyandang gelar pegawai negara. Setelah melewati fase ujian dan dinyatakan lulus sebagai calon pegawai negeri sipil, mereka kemudian akan diangkat menjadi pegawai negeri sipil.

Saya hanya menginformasikan, ini loh sumpah/janji ketika seseorang diangkat jadi PNS:

+++
“Demi Allah, saya bersumpah/berjanji :
Bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah.

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab.

Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan Martabat Pegawai Negeri, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan.

Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara.”
+++

Begitu beratnya sumpah yang diucapkan dengan lantang pada saat seorang PNS dilantik, tapi entah berapa banyak yang meresapinya sebagai sebuah kewajiban maha berat yang harus ditunaikan.

Diantara bait sumpah/janji yang akan diucapkan, buat saya kalimat terberat adalah tentang janji senantiasa mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan saya sendiri. Yang membuat berat jika kepentingan negara bertemu dengan kepentingan keluarga yang jelas merupakan kepentingan saya sendiri, lalu mana yang harus didahulukan, negara atau keluarga? 🙂

+++
Lupakan sejenak soal janji, lalu apa sih tujuan Anda menjadi PNS?

Mau cari gaji dan tunjangan besar? wah, jelas Anda salah. Gaji dan tunjangan PNS ya segitu-segitu saja. Kaya raya versi PNS adalah kecukupan untuk hidup dengan layak. Jika lebih-lebih sedikit, anggap saja bonus. Jika lebihnya agak banyak, mungkin memiliki usaha sambilan jualan Tupperware. Jika lebih-lebihnya sangat banyak, Anda bisa dituduh korupsi! 🙂

Jika pendapatan kurang sedikit, anggap saja belajar prihatin, jika kurangnya agak banyak, anggap saja konsekuensi. Jika terus-terusan merasa kurang, jangan-jangan mereka termasuk orang yang tidak pernah bersyukur!

+++
Mau berkarir? Asal tahu saja, berkarir di PNS itu sangat berjenjang panjang macam ular tangga. Tidak jarang PNS muda yang ‘istimewa’ hanya bisa gigit jari dan geregetan tidak bisa jadi pejabat pengambil keputusan karena karena terkendala masa kerja dan golongan. Coba mereka kerja di sektor swasta, usia dibawah 40 tahun pun, jika istimewa bisa menjadi ‘Jenderal’ kantor!

+++
Lalu untuk apa jadi PNS? Apa karena Anda berpikir menjadi PNS itu pekerjaan yang santai dan fleksibel? bisa pulang lebih cepat untuk mengurus anak? tidak ada tekanan kerja seberat di swasta? atau tidak bisa dipecat dan dijamin akan menerima pensiun dengan tenang aman nyaman loh jenawi?

Kalau benar tujuan Anda salah satunya seperti itu, maka Anda termasuk golongan orang yang terlarang untuk menjadi PNS.

Saran saya jika tujuan Anda menjadi PNS hanya agar bisa santai dalam bekerja, sebaiknya jangan pernah melamar! Jangan tambah lagi beban negara untuk membayar orang-orang seperti Anda. Negara ini sudah cukup menderita dengan pegawai-pegawai semacam itu.

Negara lebih butuh orang yang berdedikasi, memiliki integritas dan ikhlas bekerja! Menjadi PNS setidaknya harus ada sedikit niat pengabdian, sedikit saja sudah cukup kok! Karena jika tidak ada niat pengabdian, maka dalam bekerja yang ada hanya tumpukan keluhan.

+++

Jika Anda tidak mampu memberi banyak manfaat untuk negara ini setidaknya jangan jadi beban untuk negara ini! Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Pilihlah jalan hidup yang paling sesuai kata Hati Anda.

Mengabdi untuk negara tidak harus dengan menjadi PNS! Jika memutuskan menjadi PNS, maka jadilah pegawai cerdas yang bekerja dengan passion, semangat dan penuh keikhlasan!

+++

Jadi, mas dan mbak yakin tetap mau jadi PNS? 🙂

-Lunch meeting di Warteg Mbak Diyah Pasar Senen-

 

Udah baca? Jadi gimana pertimbangan kalian? Masih yakin mau jadi ASN? 😉

Tchau!