Reminder!

Advertisements

I’m sorry goodbye


Ola!

Setelah sekian lama banyak konsep yang menganggur, akhirnya gue mutusin buat nulis ini aja. Bingung ceritanya, gue ga bisa cerita detail sih. Intinya sih lagu ini mewakili gue dua minggu ini. Terutama hari ini. Gue ga bisa ngomong langsung, gue udah malas. Gue pun bukan tipikal yang bisa ngomong langsung, jadi ya bisa jadi dia baca ini. Biasanya sih dia stalker gue. Cari tau segala tentang gue. Pernah dia bilang baca blog gue.

Jadi gini, gue sempat dekat dengan orang dari akhir Desember. Februari-Maret dekat banget malahan, tapi gue ga klaim jadian juga ya. Ya jalan bareng sih, nonton dan makan. Tapi gue ga bisa pastiin jadian juga, HTS-an lah, emang gue yang masih ga yakin. Hati gue masih buat yang lain walau ga menutup kemungkinan akan bisa ke lain hati. Selama dekat itu ya bikin gue cukup tau karakternya lah. Gue juga tau kalo dia ternyata udah suka sama gue dari beberapa bulan awal gue masuk kantor sekarang. Suatu saat gue beneran ilfeel. Pertamanya berusaha langsung jaga jarak. Beberapa kali pas ada bahasan yang gue ga sreg, gue jawab seperlunya. Gue jawab terserah. Tapi sepertinya disalahartikan. Menurutnya gue masih baik-baik aja, ga masalah dengan pembahasannya. Sebenarnya gue udah ga sreg, mulai horor. Menjelang akhir Maret gue sakit, terus gue langsung dinas, gue balik dinas dia yang dinas. Komunikasi makin gue batasi. Tapi sepertinya masih ga ngaruh. Awal April akhirnya gue blok. Sempat gue unblok tapi ya gitu, masih usaha. Jujur, sangat ga nyaman. Di satu sisi gue berusaha profesional di kerjaan, berusaha bersikap biasa aja, tapi ternyata ga bisa. Semakin dia usaha, gue semakin seram.

Beberapa yang bikin gue ga nyaman dan seram itu: lumayan posesif, pembahasan yang ga banget. Kenapa gue bilang lumayan posesif? Ya gue hargain masukannya yang gue ga boleh minum kopi dari sembarang gelas, walau itu teman gue sendiri. Tapi terus gue dinas bareng kenalan baru, random amat dia bete sendiri. Sorry, i don’t like drama. Pembahasan yang ga banget. Ya , gue memang seterbuka itu dengan sahabat-sahabat gue dari TK dan SD, tapi ya ga seterbuka itu juga. Gue udah membatasi pembahasannya, gue jawab pendek-pendek, gue jawab terserah. Tapi ada beberapa yang dia semacam ga mau tau, tetap dibahas. Ya udah lah ga usah gue bikin detail lagi, bikin makin malas dan lumayan muak. Pembahasan itu yang bikin gue makin seram dan horor.

Kejadian hari ini bikin gue makin ilfeel dan seram. Gue berasa diteror. Ya, hari ini dikirimin bunga. Kedua kalinya dikirimin ke kantor. Kali ini tiba-tiba kurir masuk ke ruangan, tanpa telp dulu. Kondisi ruangan gue lagi lengkap, gue lagi bahas soal terorisme sama bos gue dan beberapa teman gue. Bahas yang soal kejadian Surabaya kemarin. Tiba-tiba terima itu. Heboh seruangan, bahkan sampai bagian sebelah. Please, sekali lagi ya, I DON’T LIKE DRAMA! Apa lagi dari orang yang sebenarnya gue ga nyaman. Gue udah menghindar lebih dari sebulan ini. Terakhir jumat dia mau ketemu, gue alasan ada kerjaan. Ya, memang abis itu ada kerjaan dari bos gue. Tapi intinya, gue ga mau ketemu, gue ga mau ngobrol berdua. Saat ketemu atau papasan ya gue seperlunya aja. Gue masih menghargai dia di depan yang lain.

Gue masih menghargai dia dengan ga cerita detail. Semua chat udah gue hapus, walau ada beberapa screenshot chat ke dua sahabat gue. Cukup mereka berdua yang tau detail. Hanya satu yang gue bahas detail. Kenapa gitu? Itu membuat gue agar tetap waras dan emosi gue ga meledak. Dua sahabat gue udah bilang, “yaudah labrak langsung aja”. Gue masih menghargai, makanya kadang masih negor walau seperlunya. Sampai salah satu sahabat gue bilang, “lo baik bener sih, masih mau aja negor”. Setelah drama hari ini, ga deh.

Saat masih dekat itu, gue sempat cerita ke nyokap yang gue dekat dengan seseorang yang setahun lebih tua dari adek gue. Nyokap semacam udah kasih warning. Nyokap bilang, “ga ada yang lain, mba? Memang jodoh ga ada yang tau, tapi berat banget kalo itu”. Ya, gue nekat masih dekat. Ga nurut sama nyokap. Salah satu teman gue udah kasih warning juga. Tapi gue masih kekeuh buat nyoba. Akhirnya ya gue yang kena batunya sendiri. Horor, berasa diteror. Kalau kata salah senior gue yang dekat sama gue, “ya, itu termasuk terrorism. Teroris hati”. Si mas alumni senior emang deh salah satu penenang. Walau gue anak pertama, gue bersyukur punya beberapa kakak yang bisa jadi tempat cerita. Karena gue bukan tipikal yang gampang cerita ke nyokap. Berusaha diselesaikan dengan sahabat terdekat gue dulu. Maaf, ma. Anaknya ga percaya intuisi mama pas disuruh nyari yang lain.

Lagu ini cukup mewakili yang mau gue ucapkan. Walau ada beberapa yang ga sesuai. Buat lirik kalo gue cinta dan dia terbaik, ga sama sekali. Terima kasih gue jadi makin tau karakter. Terima kasih gue jadi semakin paham untuk istilah Yang Terlihat tidak seperti Kelihatannya. Seseorang yang terlihat baik, ibadah kuat, bisa saja karakternya tidak seperti itu. Mungkin dia bisa dengan orang lain, tapi tidak dengan gue.

sebelum bertemu denganmu

diriku bahagia

semenjak bertemu denganmu

ku makin bahagia
semakin lama aku

semakin tau tentang engkau

sedikit kecewa

ternyata engkau tak baik
pertama tama semua manis

yang engkau berikan

membuat aku merasakan

cinta sebenarnya
semakin hari

semakin terungkap

yang sesungguhnya

kumakin kecewa

ternyata kau penuh dusta
maafkan ku harus pergiku tak suka dengan ini

aku tak bodoh

seperti kekasihmu yang lain
terimakasih oh Tuhan

tunjukkan siapa dia

maaf kita putus

so thank you so much

i’m sorry good bye
seribu cara kau membuatku dengan puitis

tapi kau lupa bahwaku juga manusia

yang punya mata

perihnya hati dan perasaan

maaf aku pergi

dan takkan untukmu lagi

(i’m sorry good bye)
ku tak suka dengan ini

aku tak bodoh

maafkan ku harus pergi

tak seperti kekasihmu yang lain
terimakasih oh Tuhan

tunjukkan siapa dia

maaf kita putus

so thank you so much

i’m sorry good bye

 

 

Terakhir, gue nulis ini buat diri gue sendiri, pengingat dan sebagai self-healing. Supaya teror ini ga bikin gue trauma. Jujur, ga nyaman sama sekali. Semoga aja tidak berlanjut. Saya mau memasuki Ramadhan dengan tenang. Mau fokus ibadah. Kalau memang dia hanya mau minta maaf, gue maafin, tapi cukup. Ga komunikasi lebih lanjut.

Ciao!