Yakin mau jadi PNS?


Ola!

Setahun kerja di kantor pemerintahan, beberapa kali kerja sebagai pekerja lepas di beberapa kantor pemerintahan, bikin gue cukup tau bagaimana dunia pegawai negeri sipil atau istilah sekarang itu aparatur sipil negara (ASN). Mungkin banyak yang beralasan mau jadi ASN karena gaji yang tetap, pensiun pun tetap, jelas juga jenjang karirnya. Ga bohong sih, kalau di dalamnya memang menjanjikan. Mungkin gajinya ga sebesar di perusahaan-perusahaan swasta, yang kontrak kerjanya biasanya tahunan. Tapi jangan salah, ASN sekarang pun kinerjanya diperhitungkan. Ada suatu kesalahan yang memang benar-benar fatal bisa saja diberhentikan. Kalau ga betah, ga bisa seenaknya main mau keluar gitu aja. Ada jangka waktu tertentu, kalau sebelum jangka waktu itu diminta ganti rugi untuk negara. Jumlah ganti ruginya pun ga sedikit. Belum lagi kalau ternyata ada atasan yang ga menyetujuinya. Ada atasan yang sampai manggil langsung suaminya untuk konfirmasi alasan mengundurkan diri, kalau yang mengundurkan diri itu istrinya. Pernah ada kejadian beberapa bulan lalu soalnya. Gara-gara itu juga jadi ada wacana secara lisan, kalau ada yang mengundurkan diri lagi tetap disuruh bayar ganti rugi.

Kok gitu sih? Ya menurut gue wajar sih. Negara udah mengeluarkan dana yang sangat banyak untuk pengadaannya, belum lagi pembinaannya selama setahun. Kalau kalian para peserta yang ikut seleksi cpns tau, bakalan tersadar deh, ga asal ikutan. Banyak hal lah yang mesti dipertimbangkan. Hidup itu pilihan kan?

Selain itu, jangan lupa kalau dengan kalian jadi ASN itu, kalian sudah mengabdikan diri untuk negara. Keluarga jadi nomor dua deh kalau udah ada tugas negara. Ih, kok gitu? Ya itu ada di sumpahnya sih kalo ga salah. Jadi ASN memang salah satu cara pengabdian diri untuk negara, walaupun cara pengabdian untuk negara ga mesti dengan jadi ASN. Nih tulisan lain yang gue temuin di halaman muka facebook. Tulisan ini ditulis sama salah satu abdi negara, gue ga kenal juga sih yang nulis, cuma beberapa senior gue yang ASN yang berbagi ini di facebook. Mungkin bisa jadi renungan kalian dan pertimbangan kalian yang ikut seleksi CPNS. 🙂

Yakin mau jadi PNS?

Salah satu info trending sejak kemarin yang membuat banyak orang bersemangat adalah informasi tentang dibukanya kembali Rekruitmen PNS setelah bertahun-tahun moratorium.

Para pendaftar akan bertarung habis-habisan memperebutkan kursi yang terbatas demi menyandang gelar pegawai negara. Setelah melewati fase ujian dan dinyatakan lulus sebagai calon pegawai negeri sipil, mereka kemudian akan diangkat menjadi pegawai negeri sipil.

Saya hanya menginformasikan, ini loh sumpah/janji ketika seseorang diangkat jadi PNS:

+++
“Demi Allah, saya bersumpah/berjanji :
Bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah.

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab.

Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan Martabat Pegawai Negeri, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan.

Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara.”
+++

Begitu beratnya sumpah yang diucapkan dengan lantang pada saat seorang PNS dilantik, tapi entah berapa banyak yang meresapinya sebagai sebuah kewajiban maha berat yang harus ditunaikan.

Diantara bait sumpah/janji yang akan diucapkan, buat saya kalimat terberat adalah tentang janji senantiasa mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan saya sendiri. Yang membuat berat jika kepentingan negara bertemu dengan kepentingan keluarga yang jelas merupakan kepentingan saya sendiri, lalu mana yang harus didahulukan, negara atau keluarga? 🙂

+++
Lupakan sejenak soal janji, lalu apa sih tujuan Anda menjadi PNS?

Mau cari gaji dan tunjangan besar? wah, jelas Anda salah. Gaji dan tunjangan PNS ya segitu-segitu saja. Kaya raya versi PNS adalah kecukupan untuk hidup dengan layak. Jika lebih-lebih sedikit, anggap saja bonus. Jika lebihnya agak banyak, mungkin memiliki usaha sambilan jualan Tupperware. Jika lebih-lebihnya sangat banyak, Anda bisa dituduh korupsi! 🙂

Jika pendapatan kurang sedikit, anggap saja belajar prihatin, jika kurangnya agak banyak, anggap saja konsekuensi. Jika terus-terusan merasa kurang, jangan-jangan mereka termasuk orang yang tidak pernah bersyukur!

+++
Mau berkarir? Asal tahu saja, berkarir di PNS itu sangat berjenjang panjang macam ular tangga. Tidak jarang PNS muda yang ‘istimewa’ hanya bisa gigit jari dan geregetan tidak bisa jadi pejabat pengambil keputusan karena karena terkendala masa kerja dan golongan. Coba mereka kerja di sektor swasta, usia dibawah 40 tahun pun, jika istimewa bisa menjadi ‘Jenderal’ kantor!

+++
Lalu untuk apa jadi PNS? Apa karena Anda berpikir menjadi PNS itu pekerjaan yang santai dan fleksibel? bisa pulang lebih cepat untuk mengurus anak? tidak ada tekanan kerja seberat di swasta? atau tidak bisa dipecat dan dijamin akan menerima pensiun dengan tenang aman nyaman loh jenawi?

Kalau benar tujuan Anda salah satunya seperti itu, maka Anda termasuk golongan orang yang terlarang untuk menjadi PNS.

Saran saya jika tujuan Anda menjadi PNS hanya agar bisa santai dalam bekerja, sebaiknya jangan pernah melamar! Jangan tambah lagi beban negara untuk membayar orang-orang seperti Anda. Negara ini sudah cukup menderita dengan pegawai-pegawai semacam itu.

Negara lebih butuh orang yang berdedikasi, memiliki integritas dan ikhlas bekerja! Menjadi PNS setidaknya harus ada sedikit niat pengabdian, sedikit saja sudah cukup kok! Karena jika tidak ada niat pengabdian, maka dalam bekerja yang ada hanya tumpukan keluhan.

+++

Jika Anda tidak mampu memberi banyak manfaat untuk negara ini setidaknya jangan jadi beban untuk negara ini! Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Pilihlah jalan hidup yang paling sesuai kata Hati Anda.

Mengabdi untuk negara tidak harus dengan menjadi PNS! Jika memutuskan menjadi PNS, maka jadilah pegawai cerdas yang bekerja dengan passion, semangat dan penuh keikhlasan!

+++

Jadi, mas dan mbak yakin tetap mau jadi PNS? 🙂

-Lunch meeting di Warteg Mbak Diyah Pasar Senen-

 

Udah baca? Jadi gimana pertimbangan kalian? Masih yakin mau jadi ASN? 😉

Tchau!

Advertisements

Etika Bertetangga


Sumber: pinterest.com

Ola!

Ini hasil pemikiran random gue. Setelah seminggu ini agak menahan emosi, padahal badan gue lagi drop, ya tapi gitu lah. Tulisan ini ga bermaksud menjelekkan atau gimana, ini sebenernya biar jadi catatan diri gue sendiri juga. Semacam refleksi ke diri sendiri.

Gue memang ga pernah ke lingkungan bertetangga lain selain di lingkungan sekarang. Gue belum pernah beradaptasi ke lingkungan bertetangga yang baru, lingkungan asrama ga termasuk kan? gue cuma pernah tinggal di asrama selama setahun aja. Gue berada di lingkungan ini selama lebih kurang 28 tahun. Gue mungkin belum menjadi tetangga yang baik. Toh selama ini gue juga jarang ada di rumah. Dari sekolah gue selalu main di luar. Kalo sampe rumah, lebih milih di dalam rumah.

Mungkin tetangga gue pernah merasa terganggu beberapa tahun lalu ketika gue mengadakan reuni sd di rumah, gue lupa belum bilang. Tapi itu acara sehari aja sih, parkir motor di depan rumah, itu juga ga sampai malam banget. Atau mungkin terganggu pas minggu lalu ada acara arisan keluarga. Tapi itu juga sebagian besar parkir di lapangan basket. Acara pun cuma sehari.

Acara besar yang pernah diadakan di rumah gue selain reuni sd dan arisan keluarga ya pas nyokap bokap pergi haji dan adek gue khitanan. Yang termasuk acara besar ya pas adek gue khitanan, yang pakai tenda. Itu tenda juga ga terlalu lama. Izin pinjem rumah depan. Pas acara pengajian sebelum nyokap bokap pergi haji juga pinjam rumah tetangga buat duduk keluarga gue, karena rumah gue ga muat, dan juga karena itu gue ga pakai tenda.

Kenapa gue sampai menulis ini? Agak ngerasa terganggu, ga agak sih, memang merasa terganggu, ketika tetangga hajatan. Bukan hajatannya, tapi sikap yang punya hajat. Ya, gue tau tenda sudah dipasang seminggu sebelumnya. Gue ga tau mungkin kalau yang depan rumahnya sudah izin. Tapi sampai hari minggu yang pas ada arisan keluarga di rumah, itu tenda belum sampai rumah gue yang satunya. Tiba-tiba senin atau selasanya ada lah itu nutup rumah. Gue ga tau izin atau ga. Di rumah ga ada omongan juga. Setau gue itu ga izin, rumah depan rumah gue pun merasa seperti itu. Rangkaian acara dimulai hari Rabu kalau ga salah, itu pas gue ga masuk kerja, gue sakit. Seharian di rumah gue ga merhatiin yang di luar, berusaha bodo amatan.

Tapi pas adek gue pulang, adek gue ga bisa masuk buat markir. Depan rumah gue udah full mobil. Parkir tanpa izin. Adek gue udah bilang tapi masih mesti nunggu. Karena gue tau acara udah dimulai, dengan kondisi masih sakit ya gue mending maksain masuk kantor. Daripada di rumah makin drop.

Yang gue baru tau hari kamisnya juga, ternyata ga seperti hajatan dua tahun lalu, acara sekarang benar-benar nutup jalan. Terutama jalan ke mesjid. Ya, banyak orang yang ga tau jadi putar arah. Gue tau, mungkin banyak yang membicarakan di belakang. Merasa tidak terima, dan lain-lain. Ditambah dengan tamu mereka yang agak ga sopan. Dari yang terlalu berisik dan sok gayanya, asal nongkrong di depan rumah orang, sampai ada yang buang kulit pisang ke rumah tetangga gue. Gue ga tau gimana etika bertetangga kalau seperti itu?

Catatan buat diri gue sendiri ketika akan mengadakan hajatan seperti itu ada banyak sepertinya. Ya, entah tahun depan atau kapan, gue pasti akan mengadakan hajatan gitu juga. Keluarga gue pun keluarga besar. Pasti akan ramai. Mungkin akan merepotkan tetangga gue. Gue berusaha mencatat yang harus gue lakukan.

  1. Karena gue yang akan mengadakan acara sendiri, mungkin gue harus meluangkan waktu untuk izin sendiri ke RT dan RW. Bahkan untuk ke tetangga-tetangga. Izin, minta maaf kalau mengganggu, atau mungkin bisa meminta bantuan ke mereka untuk acara. Bukan berupa bantuan besar, mungkin bisa bantu untuk memberitahu ke orang yang parkir di depan rumahnya dengan baik2.
  2. Mesti urus perizinan buat lapangan dan gedung serbaguna. Ya, dua tempat itu yang bisa digunakan untuk parkir. Orang yang jaga di ujung gang harus bisa ngatur dengan bener. Mereka harus punya catatan nomor plat mobil mana aja yang boleh masuk ke gang, yang rumahnya ada di gang itu. Jangan justru yang punya rumah ga bisa parkir di rumahnya sendiri.

 

Dua itu yang menjadi catatan utama gue. Entah kalau nanti ada yang ditambahkan. Mungkin ada yang bisa ditambahkan untuk etika bertetangga?

 

Tchau!

Cinta dalam Doa


Ola!

Masih terusan mood dari postingan yang ini, gue menemukan satu artikel yang membahas tentang hal itu. Thanks to hipwee yang telah membahasnya. Ini nih kalo mau baca artikel aslinya. Bahkan artikel itu udah ditulis 3 tahun lalu. Ya, mungkin momen gue aja yang baru muncul sekarang. :mrgreen:

 

Tanda Cinta Paling Dalam Adalah Saat Kamu Mendoakannya Diam-Diam

Cinta bisa diungkapkan dalam berbagai kata dan tindakan: mulai dari yang menyanjung, yang menempatkan yang dicintai sebagai idola, hingga pengorbanan dan waktu yang direlakan untuk memberikan pendampingan. Kuatnya energi cinta memang bisa membuat seseorang rela memberikan apa saja.

Namun, apakah cinta hanya bisa dibuktikan lewat perbuatan yang mampu tertangkap mata? Tidak adakah cara lain untuk menunjukkan cinta, tanpa harus menyentuh dan menaikkan suara? Dengan doa, misalnya?

1. Doa Adalah Bentuk Perpanjangan Tangan

Saat tak bisa terjangkau tangan, doa bisa menjangkaunya.

Tidak selamanya kita punya kesempatan dan kemampuan untuk mendampingi orang terkasih dalam berbagai tahap hidupnya. Sebagai manusia kita kerap terbatasi oleh kewajiban dan berbagai tanggung jawab yang menanti. Lalu, apa yang bisa diberikan pada orang tersayang saat pendampingan di sisi tidak mungkin dilakukan?

Saat kamu sedang exchange di luar negeri dan di saat bersamaan kekasihmu menghadapi sidang skripsi, misalnya. Selain dukungan lewat Skype dan berbagai media sosial lain, mengirimkan doa untuknya akan jadi pilihan yang paling masuk akal. Doamu adalah bentuk perpanjangan tangan dari dukungan yang ingin kamu berikan.

Saat yang terkasih tak terjangkau uluran lengan, doa akan selalu punya caranya sendiri untuk bisa tersampaikan. Menyebut namanya dalam doa yang kamu panjatkan setara dengan mengharapkan berbagai kebaikan datang padanya, dengan atau tanpa kehadiranmu di sisinya.

2. Doa Adalah Cara Termanis Untuk Menunjukkan Perhatian

Bentuk perhatian termanis.

Berbagai cara terhampar di depan mata untuk menunjukkan perhatianmu ke orang yang dicinta. Kamu bisa menghujaninya dengan stiker LINE lucu, mengiriminya bunga dan cokelat, hingga mendedikasikan waktu untuk mendampinginya kapan pun dibutuhkan.

Namun, apa yang lebih manis selain diam-diam membawa nama pasangan dalam doa yang kamu panjatkan? Tanpa diminta, kamu memohonkan tercapainya harapan-harapan yang dimilikinya. Mendukungnya dari balik kepala tanpa banyak suara.

Saat orang lain bilang, Semangat ya, kamu pasti bisa. maka bagimu doa adalah dukungan sunyi yang akan membantunya meraih hal yang selama ini ia idam-idamkan. Lagipula, adakah bentuk cinta tertinggi selain menyisipkan namanya dalam bisik mesra dengan Tuhan?

3. Mendoakan Orang yang Kamu Sayangi Adalah Bentuk Kasih Tanpa Pretensi

Kamu mencintainya tanpa pretensi.

Bukan cuma karir yang butuh integritas, mencintai seseorang pun membutuhkan tingkat integritas yang tinggi. Perlu diingat, cinta dibentuk dari sederet kata kerja yang membutuhkan usaha keras untuk mewujudkannya. Saat mencintai seseorang, kita akan belajar untuk terus memenuhi kebutuhan pasangan — yang tidak selamanya sejalan dengan hal yang kita inginkan.

Seperti kata Salim A Fillah dalam salah satu bukunya,

“…tapi disitulah tantangannya. Membuktikan ketulusan ditengah situasi yang sulit. Disitulah konsistensi teruji, tapi disitu juga integritas terbukti.”

Doa, adalah bentuk kasih sayang tertulus yang mungkin kamu berikan pada orang lain. Terlepas dari segala kesulitan dan kekesalan yang orang ini ciptakan, terus mendoakannya jadi bukti kalau kamu berharap bahwa hanya kebaikan yang datang dalam kehidupannya. Saat kamu tulus mencintai seseorang, kamu tak akan berat menyelipkan namanya dalam doa-doamu.

4. Dengan Mendoakannya, Secara Tidak Langsung Kamu Ingin Melibatkan Tuhan Dalam Hubungan Kalian

Kamu ingin melibatkan Tuhan dalam hubungan kalian.

Restu orang tua saja krusial untuk menentukan sukses atau tidaknya sebuah hubungan. Bagaimana dengan restu Tuhan, penentu segala hal yang terjadi di dunia ini? Bukankah sepatutnya restu-Nya lah yang pertama kali kita cari? Sayangnya, banyak dari kita masih kerap melupakan logika sederhana ini.

Mendoakan orang yang kamu kasihi adalah bentuk usahamu untuk melibatkan Pecinta Teragung dalam hubungan yang sedang dijalani. Mendoakan pasanganmu bisa diibaratkan sebagai proses curhat seorang anak kepada orang tuanya. Dari situ, sang orang tua akan tahu bagaimana watak dan kebiasaan pasangan lewat cerita yang dituturkan.

Lewat doa-doa yang kamu panjatkan, dengan nama pasanganmu terselip di dalamnya, Tuhan akan tahu apa yang kamu harapkan dari hubungan yang sedang kamu rajut benangnya. Ia pun akan bisa menentukan, apakah ikatan ini memang layak dilanjutkan dan akan membawa kebaikan.

5. Tidak Perlu Orang Lain Tahu Bahwa Ada Kamu Disitu

Tak perlu orang lain tahu keberadaanmu.

Bagi beberapa orang, pendampingan dan perhatian terhadap pasangan harus ditunjukkan. Hal ini sering jadi bukti kemesraan dan harmonisnya sebuah hubungan. Bahkan banyak pasangan dengan gamblang mengumbar kehangatan hubungan mereka di media sosial, yang kemudian kita kenal dengan public display affection (PDA).

Padahal, bentuk cinta paling dalam justru terjadi saat seseorang memutuskan untuk terus memberikan yang terbaik bagi pasangan tanpa harus mendapatkan kredit dari orang lain. Ia hanya akan fokus untuk memenuhi segala kebutuhan pasangan, membahagiakan orang yang dikasihinya — bukan agar dibilang mesra atau bahagia. Namun, karena itulah hal yang sepatutnya dilakukan.

Mendoakan pasanganmu secara diam-diam menunjukkan keengganan untuk menonjolkan kebaikanmu di hadapan manusia lain. Cukup pasanganmu yang merasakan, cukup pada Tuhan kamu sampaikan beribu-ribu permohonan.

6. Mendoakan Diam-Diam Menunjukkan Kamu Tak Sedang Berhitung Dalam Hubungan

Doa diam-diam akan membuat kalian lebih bisa bertahan.

Secara tidak sadar, kita sering memperlakukan hubungan seperti sebuah pertandingan. Apa yang kita terima dari pasangan akan jadi patokan bagaimana kita bersikap balik kepadanya. Ibarat konflik, ada pola “tit for tat” yang tecetak dalam hubungan yang kini sedang dijalani bersama.

Bukankah cinta sepatutnya hanya fokus pada kerja memberi saja? Apa yang kita terima, jika hendak dimaknai, bukan lagi jadi kewajiban pasangan atau orang yang kita cintai. Tuhan dan semesta lah yang akan menentukan bagaimana balasan yang layak kita terima nanti. Kita hanya perlu terus bekerja keras dan mencurahkan segala yang kita miliki, sebaik mungkin.

Inilah kenapa mendoakan dalam diam bisa disebut sebagai bentuk cinta paling dalam. Saat kamu mendoakan seseorang, kamu akan mengesampingkan bagaimana perlakuannya selama ini padamu. Berapa banyak lubang kekecewaan yang telah ia bentuk di hatimu. Tanpa harus ia tahu, kamu akan melupakan kepahitan yang telah ia ciptakan. Sambil terus memohonkan agar yang datang ke hidupnya hanyalah kebaikan.

7. Doa Dalam Diam Memperlihatkan Bahwa Ia Tak Pernah Lepas Dari Ingatan

Menunjukkan bahwa kamu tidak pernah melupakannya.

Menaruh foto pasangan di dompet agar bisa terlihat sepanjang waktu, memasukkan tanggal bertemu atau pertama kali kencan ke kalender, berkirim kabar sepanjang hari — memang jadi cara untuk membuat pasangan selalu dekat di pikiran. Namun, mendoakan pasangan juga bisa jadi bukti nyata bahwa ia tak pernah lepas dari ingatan.

Ketika kamu menyisipkan namanya dalam doa-doa yang kamu panjatkan di tengah kesibukan, ini berarti kamu memaknai keberadaannya lebih dari sekedar pengisi waktu saja. Kamu mengingatnya sebagai makhluk yang layak untuk terus dibawa namanya dalam cakap paling intim dengan pencipta. Nah, mana yang lebih tidak mudah lupa: SMS-an setiap saat, atau mendoakan setiap ada kesempatan?

8. Doa Adalah Bentuk Ketulusan Tertinggi yang Bisa Kamu Berikan Pada Seseorang

Inilah bentuk ketulusan paling tinggi.

Sesempurna apapun pasanganmu, ia tetap punya kemampuan untuk menyakiti hatimu. Akan ada masanya kamu kecewa, merasa kehadirannya tidak dianggap, dan disia-siakan oleh pasangan. Cinta yang tidak tulus akan membuatmu mengutuki keadaan, menyalahkan pasangan, bahkan menyudutkannya.

Hanya perasaan tulus yang mampu membuatmu melupakan segala kepahitan yang telah ia ciptakan di hidupmu, sembari dengan ikhlas terus mendoakannya dan memohon pada Tuhan agar hanya kebaikan yang datang ke hidupnya.

9. Pasangan yang Saling Mendoakan Akan Lebih Kuat Bertahan

Berdoa bersama, bertahan bersama

Berdoa bersama, bertahan bersama via sweetleighmama.blogspot.com

Ada pameo yang bilang bahwa:

“The couple who prays together, stay together”

Doa, seabsurd apapun konsep itu bagimu, akan jadi kekuatan saat hubunganmu dan pasangan dilanda masalah. Kekuatan besar di luar dirimu akan jadi pegangan yang bisa membuatmu tetap bertahan dalam hubungan yang sedang limbung kapalnya itu.

10. “Kita Bertemu Dalam Doa Dulu, Ya?”, Adalah Kata Termanis Saat Pertemuan Fisik Tak Mungkin Dilakukan

Kita bertemu dalam doa dulu, ya?

Ditengah kesibukan yang menyita waktu dan tenaga, doa bisa jadi cara paling menentramkan hati untuk meredam rindu saat tak bisa bertemu pasangan. Terbiasa saling mendoakan diam-diam akan membuat kamu dan pasangan tidak lagi cemas ketika tak lagi bertemu fisik. Toh kamu dan pasangan masih bisa saling bertemu dalam doa, bukan?

 

Kalau dipikir-pikir, beberapa bulan terakhir ini, gue memilih sikap hanya bisa mendoakan ini sih. Soalnya gue belum tau dia gimana, seperti apa, rasa gue berbalas atau ga, dan lain sebagainya. Walaupun seorang sahabat gue beberapa bulan lalu pernah menyarankan buat lebih berani. Gue yang ga berani-berani, sampai akhirnya sahabat gue itu udah lelah sendiri, minggu lalu gue kasih info dan nanya pendapat pun dia udah no comment, dia hanya kasih saran supaya gue berdoa aja. Gue baru berani ‘menyuarakan’ secara intens dengan kata-kata yang lebih merujuk ke seseorang ya dua minggu terakhir. :blush:

 

Querido, você…

Ya, kamu yang telah memiliki beberapa rencana denganku dalam waktu dekat, yang mungkin akhirnya membuka blog ini dan membaca postingan ini… ketika berjauhan seperti beberapa bulan ini, hanya doa yang bisa diberikan. Poin kedua telah kuterima, semangat itu diberikan beberapa saat yang lalu. Walaupun entah kamu memposisikannya seperti apa. Buatku, itu masuk ke poin kedua. Terima kasih untuk beberapa semangatnya yang telah diberikan sekitar sebulan terakhir ini. 🙂

 

Sudahlah daripada gue makin kegulung ombak kalau semakin dibahas, mari sampai disini aja. 😀 Jadi, mari saling mendoakan. Entah untuk siapapun itu. 😉

Tchau!

Rangkuman Twit @PenerbitMizan #IslamTuhanIslamManusia


Assalamualaikum. Ola!

Siang-siang baca twitter di kantor, pas banget Penerbit Mizan lagi live twit acara Bedah Buku di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ya mari merangkum ini buat jadi pengingat. 🙂

 

[HB] Dari sejak zaman Nabi, sudah banyak penafsiran yang berbeda mengenai Islam dan tata cara ibadahnya (fiqih)

[HB] Penafsiran hadits, bahkan di zaman Nabi sudah berbeda-beda

Islam Tuhan yaitu Islam (dalam tafsir manusia) dan Islam untuk (kebahagiaan) manusia

Semua (tafsir) Islam kebenarannya relatif

Semua (tafsir) Islam (punya kemungkinan) Benar (karena itu, saling belajarlah)

Islam untuk kebahagiaan manusia bisa berarti menyenangkan Tuhan = menyenangkan manusia

[HB] Berislam dg hati yg benar dan ikhlas. Bila hati bersih, maka manusia bisa menampung kebenaran dari Allah SWT

[HB] Islam Tuhan itu mutlak. Islam manusia itu relatif

Ambil pandangan org lain ttg Islam. Semakin banyak kita mengapresiasi, maka islam kita makin utuh, krn kita belajar

Sumber kekacauan dalam Islam karena banyak orang merasa benar dengan Islam-nya masing-masing

Menyenangkan Tuhan yaitu dg cara Rahmatan lil ‘alaamiin. Menjadi rahmat bagi semesta alam.

Menyenangkan Allah dg cara yg sama, saat Allah menurunkan Islam, sebagai agama yang penuh rahmat bagi semesta alam

Takfirisme, gejala yg terjadi di masyarakat saat ini, dimana mudah mengkafirkan org yg tidak sepaham dlm keislaman

Jangan mudah mengkafirkan, budaya atau ritual lokal yang ada di sekitar masyarakat

Karena Budaya atau agama lokal, kemungkinan peninggalan Nabiyullah yang totalnya mencapai 124.000

Kecintaan pada Allah seharusnya menjadikan kita baik kepada sesama dan menghargai kepercayaan orang lain

Islam itu adalah agama cinta

[AG] Agama diturunkan dalam kategori-kategori kemanusiaan

[AG] Allah itu diimani bukan diketahui

 

Semoga bisa buat pengingat diri. 🙂

Tidak ada yang kebetulan….


image

Ola!

Ini pikiran random sekitar beberapa hari yang lalu pas mau tidur dan ga bisa tidur. Alhasil gue ubek-ubek pinterest dan nyari quotes tentang satu kalimat ini, ‘kebetulan‘. Langsung gue masukin draft sih, tapi terus males nulis. Hahaha. Maapkeun, seperti biasa mood gue balik turun. :mrgreen:

Pernah ga mikir atau ngebatin, ‘eh kebetulan nih!’ atau ‘wah! kebetulan!’, pas ngalamin kejadian atau pas ketemu orang? Gue sering sih. Hehehe. Entah kenapa gue merasa lingkungan gue itu-itu aja. Sebenarnya gue udah main kemana-mana sih. Tapi setiap ketemu orang baru, entah gimana kenalan baru gue itu ternyata kenal sama salah satu teman gue dari lingkungan lama.

 

image

 

Memang, semua yang terjadi di dunia ini pada semua orang memang ada alasan. Apapun alasannya, terkadang kita tidak tau sampai pada waktunya. Hanya yang sudah menuliskannya sejak awal yang mengetahui apa alasannya, ya, hanya pencipta kita, Allah SWT. Terkadang, atau lebih seringnya, kita bingung kenapa terjadi, kenapa ketemu dengan orang tersebut, kenapa kenal dengan orang tersebut, kenapa ada di lingkungkan tersebut, dan lain sebagainya. Gue pun sama. Kenapa akhirnya gue nulis ini? Buat jadi pengingat diri sendiri. If you know, writing is best self healingmaybe it’s work for me. 🙂

 

image

Ya, gue pernah mendengar ini, tapi lupa baca dimana atau mungkin ada kalimat ini juga di salah satu film yang gue tonton. Semesta dan alam mungkin memberikan tanda-tanda, cuma kita aja yang ga peka. Ketika ada masalah, kita sering lupa akan hal itu. Allah sebenarnya sudah memberikan ‘tanda’ dan petunjuk ke kita bagaimana menyelesaikannya, kita yang tidak peka untuk mengetahuinya. *self noted*

image

image

Ketika setelah menyelesaikan ‘masalah’ atau kesulitan, seringkali kita lupa bahwa itu semuanya ga pernah random. Selalu ada hubungan. Kita selalu terkejut atas semua hubungan itu. Mungkin yang dapat kita lakukan hanya mendekatkan diri kepada-Nya. Ya, sering kali kita mendengar, ‘Allah SWT tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambaNya’. Ya, semua pasti berlalu. *self noted again*

image

Jadi apa yang kita lakukan? Seperti quote itu, lapang dada untuk menerima skenarioNya dan memperbaiki diri. Berharap skenario yang jauh lebih baik akan segera tiba. *self noted again, ini terlalu banyak catatan untuk diri sendiri sepertinya*

image

Mari memperbaiki diri dan merenungi semuanya. Yakin semua pasti berlalu. Dear rasa malas, segera pergi dari diri ini. Semoga segera datang skenario yang lebih baik.

Ciao!

 

Animal hoarder


Ola!

Hampir seminggu ini di timeline facebook ramai dengan kasus shelter gunung sindur. Tentang hewan-hewan, para kucing dan anjing, yang diselamatkan oleh para rescuer. Sedih baca beritanya dan liat foto-fotonya. Mau bantu tapi ga bisa bantu banyak, ga bisa banyak donasi karena emang lagi krisis, ga bisa adopsi nantinya karena emang ga mungkin pelihara di rumah, ga bisa jadi rescuer juga. Hal lain yang bisa gue lakukan hanya membaginya di sosial media dan blog gue. Oh iya, ga lupa juga mendoakan semuanya. 🙂

Ini ada sebuah tulisan menarik di facebook dari akun Emak Kucing. Inti tulisannya adalah kita harus saling peduli dengan sesama. Terutama yang berkebutuhan khusus, seperti orang yang terduga hoarder. Sila dibaca tulisannya ini. Ini sebagai pengingat diri kita juga. 🙂

Seminggu terakhir ini kita dihebohkan dengan peristiwa meninggalnya Ibu Ratna Irma dan shelter Gunung Sindur yang ditinggalkannya.

Saya tidak akan berbicara banyak mengenai beliau, tapi saya ingin berbicara mengenai pandangan saya terhadap beliau.

Beliau add saya setahun yang lalu, dan mengirimkan pesan seperti screenshoot yang saya unggah ini.

“Boleh jadi teman?”
Dan saya menjawab ”Boleh”. 

8 Januari 2015. Hanya itu percakapan yang kami lakukan sepanjang kami berteman.  Sisanya paling hanya sekedar basa-basi ijin share di beberapa postingan.  Dan entah kenapa tiba-tiba saya merasa sedih sekali.

Sebelum beliau add saya, saya sudah pernah mendengar cerita soal beliau.  Seburuk dan sebagus apapun cerita orang tentang orang lain saya tidak pernah percaya begitu saja sampai saya mengalaminya sendiri.  Karena kita semua tahulah kalau yang namanya omongan pasti ada bumbu-bumbunya, ada yang dilebihkan dan ada yang dikurangi.  Dan informasi dari orang lain yang kita terima cenderung membentuk asumsi dalam pikiran kita bahwa orang itu memang begitu. 

Asumsi adalah dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan berpikir karena dianggap benar (menurut KBBI online).  Misalnya saya menceritakan tentang orang yang Anda sendiri belum pernah bertemu dengannya, saya bercerita bahwa Si A baik sedangkan si B buruk.  Ketika saya mengenalkan keduanya pasti dalam otak Anda sudah punya modal memori bahwa A baik dan B buruk dan itu akan berpengaruh pada sikap Anda padanya tho.  Saya sudah berhasil mempromosikan si A si B begini padahal itu menurut pandangan saya.  Tidak heran kan kalau suatu saat Anda bisa saja bilang, enggak ah dia gak kayak gitu, kamunya aja…

Nah itu, saya menghindari itu.  Sikap kita terhadap orang lain tergantung sikap mereka ke kita kan?  Orang lain juga melakukan hal yang sama!  Makanya kalau ada yang bertanya si ini tuh orangnya gimana sih, apa bener dia itu begini begitu, ya paling saya jawab silahkan saja coba berteman dengannya, karena mungkin dia akan bersikap berbeda antara ke saya dan ke orang lain.

Sampai sini paham ya.

Setiap kita memiliki bibit depresi.  Ada yang sadar ada yang tidak.  Ada yang bisa mengatasi dan ada yang tidak.  Bu Ratna Irma adalah seorang hoarder. 

Hoarder adalah pelaku hoarding.  Hoarding adalah sebuah gejala psikologis yang ditandai dengan hobi aneh mengumpulkan barang-barang rongsokan tak berguna tapi sayang dibuang.  Tidak hanya barang tapi juga bisa hewan peliharaan. 

Dan karena ini masalah psikologis tentu harus mendapatkan penanganan dari ahlinya.  Kenapa harus ahlinya?  Karena kita, orang awam, tidak akan sanggup menanganinya.  Hoarder adalah orang yang sangat keras kepala, kita beri tahu mereka akan membantah, kita mau membantu mereka tidak akan mau, dan edukasi ke hoarder itu alot sekali.  Lha terus gimana?  Orang-orang seperti ini butuh pendekatan dan perlakuan khusus.  Buktinya mereka bisa dekat dengan orang lain juga kok.  Mereka baik-baik saja saat berada di lingkungan yang membuat mereka nyaman dan tidak menganggap mereka gila. 

Tanya diri sendiri, bukankah kita semua sebenarnya juga begitu?

Kasus Bu Ratna Irma ini bukan kasus hoarder pertama di Indonesia.  Teman-teman yang sudah berteman dengan saya lebih dari 4 tahun pasti sudah mengenal atau minimal pernah mendengar beberapa kasus hoarding.  Itu yang ter blow up di media sosial ya, yang hanya jadi cerita di dunia nyata mari kita berharap mudah-mudahan tidak ada. 

Saya sangat berterimakasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap para relawan yang sudah terjun langsung membantu penghuni Shelter Gunung Sindur dan orang-orang hebat di baliknya.  Saya yang hanya menatap lewat layar kaca saja tidak sanggup berkata apa-apa.  Kalian luar biasa! Kasus Bu Ratna ini menjadi heboh dan viral dimana-mana. 

Sebagai orang luar, yang tidak mengenal beliau secara langsung, OKElah kalau kita mau mengambil pelajaran dari kasus ini, tapi kalau kemudian kita menjadi sok tahu, membangun opini publik, dan ikut menghujat seseorang yang sudah meninggal, ITU YANG NGGAK OKE! 

Nggak membantu apa-apa juga. Sekarang untuk apa kita menghujat dan memaki?  Orangnya sudah meninggal!  Dan kita semua ini lho ada di daftar tunggu kematian juga. 

Saya copas dari seorang teman ya, janganlah memperolok kematian seseorang yang buruk, karena kelak kita pun pasti mati dan tak ada jaminan takkan menemui kematian yang lebih buruk.

Saya jadi ingat tausiah seorang ustadzah di TVRI, di dunia ini kita tidak hidup masing-masing, harus saling mengingatkan, harus saling membantu, nanti di akhirat baru kita urusan masing-masing!  Nah kalau kita baru sekarang mau sok ikut campur urusan bu Ratna saat beliau masih hidup, TELAT!  Beliau sudah meninggal.  Mbok ya sudahlah…

Kita boleh saja tidak kasihan kepada mendiang, tapi apa yakin kita bersih?  Yakin kelak kalau kita meninggal tidak ada yang ngomongin kita? Kalau saya sih, saya masih hidup aja banyak yang ngomongin saya di belakang, entah deh kalau saya mati nanti bagaimana.

Kalau memang teman-teman mau, ada satu hoarder yang masih hidup.  Breeder berkedok rescuer.  Yang disteril cuma kucing lokalnya, kucing gondrongnya beranak terus.  Sudah tahu kemampuannya kurang tapi masih saja mungutin kucing.  Begitu kucingnya mati dikubur di pot!  Dan diposting! Dikasih tahu baik-baik tidak bisa.  Kita ngomong keras sedikit, fansnya ikut ngebelain. Sudah ditawarkan steril gratis, dia tidak mau!  Kurang apa coba? Saya tidak tahu kabar dia sekarang bagaimana tapi kalau mau diurus mumpung nih, mumpung dia masih hidup.  Silahkan bagi siapa saja yang mau saling membantu, siapa tahu dengan pendekatan yang lebih baik teman-teman ini bisa sembuh. 

Dan calon-calon hoarder tentu teman-teman bisa prediksi dan harap berhati-hati dengan diri sendiri.  Lihat saja siapa-siapa yang masih jadi pemulung kucing.  Mari kita saling mengingatkan.

Kembali ke soal Bu Ratna.  Apa teman-teman ingat status saya beberapa hari yang lalu tentang orang yang satu geng pasti frekuensinya sama?  Ada teman lain yang bilang pertemanan itu terjadi  karena kesamaan energi sehingga kita saling tertarik.  Ketika Bu Ratna add saya, mungkin karena energinya sama, mungkin beliau tertarik ingin benar-benar berteman dengan saya.  Dan terus terang saya menyesal, kenapa percakapan kami hanya sampai disitu saja. 

Ada penelitian yang mengatakan bahwa setiap pemilik kucing itu sebenarnya punya rahasia yang terdalam, ada sesuatu yang hilang, dan dengan kucing lah kita mengisi kekosongan.  Kenali diri kita, maafkan, dan mari berdamai.  Kemudian lihatlah sekeliling kita, adakah orang-orang yang membutuhkan pertolongan juga? Mari sama-sama bergandengan tangan, saling menguatkan, saling menyembuhkan.   Kita merasa kesepian karena kita belum saling menemukan bukan?

Setiap kita ingin punya teman ngobrol dan berbagi.  Tapi teman seperti itu sangat sulit dicari.  Seandainya saja saat itu saya lebih cepat menyadari dan saya bersikap lebih hangat kepada beliau, mungkin saya bisa menjadi teman yang baik.  Saya menyesal, mengapa saya tidak berusaha lebih keras untuk menjalin pertemanan dengannya.  Jika saya ada di posisi Bu Ratna tentu akan sangat menyenangkan jika punya teman yang bersedia mendengarkan.  Bukan teman yang hanya bisa menyalahkan.

Maafkan saya…
Saya gagal menjadi teman yang baik.
Saat ini hanya inilah yang bisa saya lakukan.

Beristirahatlah dalam damai Ibu Ratna Irma.
Semoga semua amal ibadahmu diterima dan segala dosa diampuni olehNya.
Dan semoga mantan penghuni shelter Gunung Sindur mendapatkan yang terbaik.
Aamiin…

*alfatihah untuk ibu irma dan para hewan yang telah tiada*

Aamiin allahuma aamiin….

Ciao.

Is this your passion? Or…?


Ola!

Nggak berasa udah bulan Syawal udah hampir abis nih. Waktu berjalan begitu cepat. Seperti rollercoster, bulan ini naik turunnya sangat cepat. Ada beberapa kejadian dalam beberapa bulan terakhir ini yang pada akhirnya ‘memaksa’ gue untuk membuat suatu keputusan yang cukup berat. Setelah tiga bulan ini diombang ambing untuk mengambil keputusan. Ga henti-hentinya berdoa minta petunjuk. Ngobrol sama banyak pihak. Akhirnya sebulan yang lalu gue udah memutuskannya.

Ketika suatu saat di persimpangan dan harus memilih

Berat? BANGET!

Gara-gara baca twitnya Motty sekitar sebulan yang lalu soal passion, itu bikin mikir. Passion atau bukan ya? Gue senang berada di dunia yang emang gue suka. Tapi sepertinya ada beberapa hal yang ga sesuai dengan itu. Mungkin kalau tetap di dunia yang gue suka ini, gue mesti nyangkut di bagian lainnya. Yang sesuai sama keinginan gue yang pernah gue tulis sekitar setahun yang lalu.

Sedih? Pastinya. Berat banget sih. Ada satu dan lain hal yang menyebabkan gue mundur. Setelah berusaha bertahan, akhirnya gue menyerah juga. Ternyata gue ga bisa bertahan. Sekarang masih bingung juga sih. Mau fokus dulu sama si UT yang sekian lama gue tinggalkan. Mau cepat-cepat kelar. Tapi sambil nyari pemasukan tambahan yang lebih fleksibel, tapi sesuai dengan yang gue suka. Maunya sih nge-proofread, setidaknya ada pemasukan sambil nyelesaiin si UT itu.

Mungkin saatnya bantuin di toko dulu, bikin sistem buat toko, dan lainnya. Bantuin ketika nyokap bokap pergi selama sekitar 40 hari. Mungkin juga emang saatnya mulai si EICHIKO, kalo ga ada yang ‘ga sibuk’, kayaknya ga jalan-jalan nih si EICHIKO. Hihihi. :mrgreen:

Oh iya, hobi sama passion menurut gue agak beda, ya. Hobi emang yang kita suka, biasanya sih sesuai dengan passion kita. Menurut gue pribadi, hobi itu bagian dari passion. Hobi bisa macem-macem, tapi passion biasanya terfokus ke satu hal. Passion sendiri biasanya udah melekat di diri kita dari dulu, bisa dibilang ya emang jiwa kita ada di situ. Kembali menurut gue pribadi, *ini kayaknya gue lagi ga bosen-bosen deh bilang ini, hehe*, passion ga hanya lagi sekarang, tapi emang udah dari lahir, dari sananya. :mrgreen:

Eh, ini postingan sebenernya udah mau ditulis sebulan yang lalu, udah ada di draf dari 10 hari sebelum lebaran. Tapi terus gue diemin mengendap di draf. Baru sekarang gue buka lagi. Hehehe.

Ya sudahlah. Sekarang Bismillah aja, berdoa semoga rezeki tetap mengalir lancar, tetap ada pemasukan untuk semuanya. Mohon doanya saja ya. 🙂

Tapi kalau ada info yang bisa menambah rezeki gue, boleh lho. Dengan senang hati. 😀

Ciao!