Animal hoarder


Ola!

Hampir seminggu ini di timeline facebook ramai dengan kasus shelter gunung sindur. Tentang hewan-hewan, para kucing dan anjing, yang diselamatkan oleh para rescuer. Sedih baca beritanya dan liat foto-fotonya. Mau bantu tapi ga bisa bantu banyak, ga bisa banyak donasi karena emang lagi krisis, ga bisa adopsi nantinya karena emang ga mungkin pelihara di rumah, ga bisa jadi rescuer juga. Hal lain yang bisa gue lakukan hanya membaginya di sosial media dan blog gue. Oh iya, ga lupa juga mendoakan semuanya. 🙂

Ini ada sebuah tulisan menarik di facebook dari akun Emak Kucing. Inti tulisannya adalah kita harus saling peduli dengan sesama. Terutama yang berkebutuhan khusus, seperti orang yang terduga hoarder. Sila dibaca tulisannya ini. Ini sebagai pengingat diri kita juga. 🙂

Seminggu terakhir ini kita dihebohkan dengan peristiwa meninggalnya Ibu Ratna Irma dan shelter Gunung Sindur yang ditinggalkannya.

Saya tidak akan berbicara banyak mengenai beliau, tapi saya ingin berbicara mengenai pandangan saya terhadap beliau.

Beliau add saya setahun yang lalu, dan mengirimkan pesan seperti screenshoot yang saya unggah ini.

“Boleh jadi teman?”
Dan saya menjawab ”Boleh”. 

8 Januari 2015. Hanya itu percakapan yang kami lakukan sepanjang kami berteman.  Sisanya paling hanya sekedar basa-basi ijin share di beberapa postingan.  Dan entah kenapa tiba-tiba saya merasa sedih sekali.

Sebelum beliau add saya, saya sudah pernah mendengar cerita soal beliau.  Seburuk dan sebagus apapun cerita orang tentang orang lain saya tidak pernah percaya begitu saja sampai saya mengalaminya sendiri.  Karena kita semua tahulah kalau yang namanya omongan pasti ada bumbu-bumbunya, ada yang dilebihkan dan ada yang dikurangi.  Dan informasi dari orang lain yang kita terima cenderung membentuk asumsi dalam pikiran kita bahwa orang itu memang begitu. 

Asumsi adalah dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan berpikir karena dianggap benar (menurut KBBI online).  Misalnya saya menceritakan tentang orang yang Anda sendiri belum pernah bertemu dengannya, saya bercerita bahwa Si A baik sedangkan si B buruk.  Ketika saya mengenalkan keduanya pasti dalam otak Anda sudah punya modal memori bahwa A baik dan B buruk dan itu akan berpengaruh pada sikap Anda padanya tho.  Saya sudah berhasil mempromosikan si A si B begini padahal itu menurut pandangan saya.  Tidak heran kan kalau suatu saat Anda bisa saja bilang, enggak ah dia gak kayak gitu, kamunya aja…

Nah itu, saya menghindari itu.  Sikap kita terhadap orang lain tergantung sikap mereka ke kita kan?  Orang lain juga melakukan hal yang sama!  Makanya kalau ada yang bertanya si ini tuh orangnya gimana sih, apa bener dia itu begini begitu, ya paling saya jawab silahkan saja coba berteman dengannya, karena mungkin dia akan bersikap berbeda antara ke saya dan ke orang lain.

Sampai sini paham ya.

Setiap kita memiliki bibit depresi.  Ada yang sadar ada yang tidak.  Ada yang bisa mengatasi dan ada yang tidak.  Bu Ratna Irma adalah seorang hoarder. 

Hoarder adalah pelaku hoarding.  Hoarding adalah sebuah gejala psikologis yang ditandai dengan hobi aneh mengumpulkan barang-barang rongsokan tak berguna tapi sayang dibuang.  Tidak hanya barang tapi juga bisa hewan peliharaan. 

Dan karena ini masalah psikologis tentu harus mendapatkan penanganan dari ahlinya.  Kenapa harus ahlinya?  Karena kita, orang awam, tidak akan sanggup menanganinya.  Hoarder adalah orang yang sangat keras kepala, kita beri tahu mereka akan membantah, kita mau membantu mereka tidak akan mau, dan edukasi ke hoarder itu alot sekali.  Lha terus gimana?  Orang-orang seperti ini butuh pendekatan dan perlakuan khusus.  Buktinya mereka bisa dekat dengan orang lain juga kok.  Mereka baik-baik saja saat berada di lingkungan yang membuat mereka nyaman dan tidak menganggap mereka gila. 

Tanya diri sendiri, bukankah kita semua sebenarnya juga begitu?

Kasus Bu Ratna Irma ini bukan kasus hoarder pertama di Indonesia.  Teman-teman yang sudah berteman dengan saya lebih dari 4 tahun pasti sudah mengenal atau minimal pernah mendengar beberapa kasus hoarding.  Itu yang ter blow up di media sosial ya, yang hanya jadi cerita di dunia nyata mari kita berharap mudah-mudahan tidak ada. 

Saya sangat berterimakasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap para relawan yang sudah terjun langsung membantu penghuni Shelter Gunung Sindur dan orang-orang hebat di baliknya.  Saya yang hanya menatap lewat layar kaca saja tidak sanggup berkata apa-apa.  Kalian luar biasa! Kasus Bu Ratna ini menjadi heboh dan viral dimana-mana. 

Sebagai orang luar, yang tidak mengenal beliau secara langsung, OKElah kalau kita mau mengambil pelajaran dari kasus ini, tapi kalau kemudian kita menjadi sok tahu, membangun opini publik, dan ikut menghujat seseorang yang sudah meninggal, ITU YANG NGGAK OKE! 

Nggak membantu apa-apa juga. Sekarang untuk apa kita menghujat dan memaki?  Orangnya sudah meninggal!  Dan kita semua ini lho ada di daftar tunggu kematian juga. 

Saya copas dari seorang teman ya, janganlah memperolok kematian seseorang yang buruk, karena kelak kita pun pasti mati dan tak ada jaminan takkan menemui kematian yang lebih buruk.

Saya jadi ingat tausiah seorang ustadzah di TVRI, di dunia ini kita tidak hidup masing-masing, harus saling mengingatkan, harus saling membantu, nanti di akhirat baru kita urusan masing-masing!  Nah kalau kita baru sekarang mau sok ikut campur urusan bu Ratna saat beliau masih hidup, TELAT!  Beliau sudah meninggal.  Mbok ya sudahlah…

Kita boleh saja tidak kasihan kepada mendiang, tapi apa yakin kita bersih?  Yakin kelak kalau kita meninggal tidak ada yang ngomongin kita? Kalau saya sih, saya masih hidup aja banyak yang ngomongin saya di belakang, entah deh kalau saya mati nanti bagaimana.

Kalau memang teman-teman mau, ada satu hoarder yang masih hidup.  Breeder berkedok rescuer.  Yang disteril cuma kucing lokalnya, kucing gondrongnya beranak terus.  Sudah tahu kemampuannya kurang tapi masih saja mungutin kucing.  Begitu kucingnya mati dikubur di pot!  Dan diposting! Dikasih tahu baik-baik tidak bisa.  Kita ngomong keras sedikit, fansnya ikut ngebelain. Sudah ditawarkan steril gratis, dia tidak mau!  Kurang apa coba? Saya tidak tahu kabar dia sekarang bagaimana tapi kalau mau diurus mumpung nih, mumpung dia masih hidup.  Silahkan bagi siapa saja yang mau saling membantu, siapa tahu dengan pendekatan yang lebih baik teman-teman ini bisa sembuh. 

Dan calon-calon hoarder tentu teman-teman bisa prediksi dan harap berhati-hati dengan diri sendiri.  Lihat saja siapa-siapa yang masih jadi pemulung kucing.  Mari kita saling mengingatkan.

Kembali ke soal Bu Ratna.  Apa teman-teman ingat status saya beberapa hari yang lalu tentang orang yang satu geng pasti frekuensinya sama?  Ada teman lain yang bilang pertemanan itu terjadi  karena kesamaan energi sehingga kita saling tertarik.  Ketika Bu Ratna add saya, mungkin karena energinya sama, mungkin beliau tertarik ingin benar-benar berteman dengan saya.  Dan terus terang saya menyesal, kenapa percakapan kami hanya sampai disitu saja. 

Ada penelitian yang mengatakan bahwa setiap pemilik kucing itu sebenarnya punya rahasia yang terdalam, ada sesuatu yang hilang, dan dengan kucing lah kita mengisi kekosongan.  Kenali diri kita, maafkan, dan mari berdamai.  Kemudian lihatlah sekeliling kita, adakah orang-orang yang membutuhkan pertolongan juga? Mari sama-sama bergandengan tangan, saling menguatkan, saling menyembuhkan.   Kita merasa kesepian karena kita belum saling menemukan bukan?

Setiap kita ingin punya teman ngobrol dan berbagi.  Tapi teman seperti itu sangat sulit dicari.  Seandainya saja saat itu saya lebih cepat menyadari dan saya bersikap lebih hangat kepada beliau, mungkin saya bisa menjadi teman yang baik.  Saya menyesal, mengapa saya tidak berusaha lebih keras untuk menjalin pertemanan dengannya.  Jika saya ada di posisi Bu Ratna tentu akan sangat menyenangkan jika punya teman yang bersedia mendengarkan.  Bukan teman yang hanya bisa menyalahkan.

Maafkan saya…
Saya gagal menjadi teman yang baik.
Saat ini hanya inilah yang bisa saya lakukan.

Beristirahatlah dalam damai Ibu Ratna Irma.
Semoga semua amal ibadahmu diterima dan segala dosa diampuni olehNya.
Dan semoga mantan penghuni shelter Gunung Sindur mendapatkan yang terbaik.
Aamiin…

*alfatihah untuk ibu irma dan para hewan yang telah tiada*

Aamiin allahuma aamiin….

Ciao.

Advertisements